logo

Sabtu, 17 Oktober 2015

Pakar Hukum Tata Negara: Jokowi tak punya kapasitas untuk pimpin Indonesia

Pakar Hukum Tata Negara: Jokowi tak punya kapasitas untuk pimpin Indonesia

Margarito Kamis
margarito kamis, pakar hukum tata negara
POSMETRO INFO - Pakar Hukum Tata Negara Margarito Kamis mengatakan, naiknya Joko Widodo menjadi presiden adalah akibat propaganda yang luar biasa. Dengan propaganda itu, Jokowi diibaratkan seperti “Superman” yang datang dari dunia lain.

“Bahwa bapak kita ini jagoan di Solo yang cuma sembilan kecamatan dengan rakyatnya yang begitu manis, lalu dipropagandakan sedemikian hebatnya,  dan sim salabim jadilah dia presiden,” kata Margarito saat menjadi narasumber Grup Diskusi Indonesia  “Evaluasi 1 Tahun Jokowi-JK” di Restoran Pempekita, Tebet, Jakarta, Sabtu (17/10).

Ia menjelaskan, orang-orang yang dipimpin oleh Jokowi, kelasnya jauh di atasnya seperti Rizal Ramli, Luhut Pandjaitan, Darmin Nasution dan lainnya. Jadi, ujarnya, bagaimana Jokowi mau memerintah jika kelas para pembantunya saja ada diatas, bahkan sejajarpun tidak.

“Ini faktual, siapa yang kenal Jokowi? Ini kan akibat propaganda yang begitu hebat dengan mobil esemka yang begitu manis, ga tau mobil itu sekarang ada dimana,” ujarnya.

Menurutnya, Jokowi tidak cukup kapasitasnya untuk jadi “bos besar” di republik yang dengan 230 juta orang dengan segala masalah yang lebih rumit.

“Ini orang biasa di Solo, sembilan Kecamatan, naik dengan begitu manis, adem, tiba-tiba disuruh mikir geopolitik, geostrategi, ngaco kita ini,” tegasnya.

Ia melanjutkan, di tengah situasi sulit seperti ini, justru bangsa ini dipimpin oleh orang yang tidak cukup konsisten.

Ia menilai, agak sulit untuk tidak mengatakan bahwa beliau tidak mengerti persoalan itu.

“Kita tidak bisa berharap banyak dari pemimpin kita yang sekarang karena memang tidak cukup punya kapasitas untuk menjadi pemimpin bangsa begini besar dengan masalah yang begitu rumit, itu di dalam negeri. Belum lagi masalah international yang kita tidak bisa keluar dari masalah itu,” tukasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Renaissance Foundation Ridwan Saidi mengatakan, Pemerintah Jokowi sudah “kartu mati”. Kerjanya hanya berkelahi sesama mereka.

“Kita tidak bisa dipimpin oleh ‘kartu mati’,” katanya.

Bahkan ia menilai, saat ini secara teks, unsur-unsur dan faktor-faktor yang membuat Jokowi jatuh sudah ada. Tinggal  waktunya saja kata dia, kapan Jokowi akan benar-benar turun dari jabatannya sebagai presiden.

“Tinggal waktunya kita tunggu. Bukan tidak mungkin, tiba-tiba ada kabar Jokowi sudah jatuh, karena sekarang perubahan sudah enggak bisa dihindarkan lagi,” tandasnya.

Hadir sebagai pembicara dalam acara yang dipimpin Bursah Zarnubi ini adalah Peneliti Senior LIPI Siti Zuhro, Direktur Group Diskusi Mustika Yan Hiksas, dan Johan Silalahi dari Negarawan Centre. Hadir pula beberapa aktivis senior seperti Ariady Achmad, Syahganda Nainggolan, dan Hatta Taliwang. [bee]

Loading...
under construction
loading...