logo

26 Jul 2018

Ancam Merapat ke Jokowi, PKS Disorientasi?

Ancam Merapat ke Jokowi, PKS Disorientasi?


posmetroinfo - Semakin solidnya Gerindra-Demokrat memdukung Prabowo sebagai calon presiden penantang Jokowi memperkuat barisan oposisi. Jokowi dan partai koalisi petahana terkaget-kaget dengan manuver SBY dan Prabowo.

Maka serangan ke SBY langsung dilancarkan. Istana menuduh SBY tidak minta ijin ke Jokowi kalau akan berkoalisi dengan Gerindra. Padahal Demokrat sudah dijanjikan sejumlah kursi menteri termasuk untuk AHY.

SBY langsung merespon serangan dari petahana. SBY merasa bukan bawahan Jokowi dan Demokrat bukan koalisi petahana. Sehingga tidak harus ijin.

Hambatan dalam berkoalisi bukan dengan Jokowi tetapi lingkungan koalisi yang tidak menempatkan Demokrat di posisi seharusnya. Adapun hubungan dengan Jokowi tetap saling menghormati.

Kejutan lainnya adalah sikap PKS yang kurang nyaman atas kemesraan Gerindra dan Demokrat. PKS menganggap Demokrat adalah pendatang baru dalam koalisi oposisi. Bahkan PKS mengancam akan mendukung Jokowi jika Prabowo terus bermanuver tanpa melibatkan PKS.

Hal yang cukup membuat Prabowo merasa didikte elit PKS. PKS telah mengajukan Ahmad Heryawan dan Salim Segaf Aljufri sebagai cawapres Prabowo.

Menurut Direktur Progress Indonesia Taufiq Amrullah, sikap elit PKS ini nampak kenak-kanakan dan bisa saja ditinggalkan di tengah jalan jika terus merengek. Ancaman PKS hanya gertak sambal yang hanya menginginkan bargaining position.

Apalagi dengan merapatnya PAN dalam Koalisi Gerindra-Demokrat.

“PKS harusnya terlibat dalam manuver elit, bukan menebar ancaman. Bukti kedekatan Gerindra-PKS harus ditampilkan ke publik hari-hari ini. Jangan terkesan menunggu dan mengancam. Bisa-bisa ditinggal di tengah jalan. Kalau sekutu, mengapa masih ada cemburu ” Kata Taufik.

“Setelah Gerindra-Demokrat-PAN berkoalisi, tentu akan diikuti kemungkinan oleh PBB dan sejumlah partai baru. Barisan oposisi akan semakin menguat dan petahana akan semakin menciut. Koalisi petahana juga rentan pecah jika Jokowi salah memilih cawapres. Golkar dan PKB bisa saja lari,” Sambung Taufik.

Dalam politik, wajib memiliki kemampuan seni mengelola ketidakpastian. Mengesampingkan perbedaan dan mempertemukan kesamaan. Ketidaksolidan PKS terbaca oleh berbagai pihak sehingga mudah ditinggalkan. [akt]

Loading...
under construction
loading...