logo

9 Jul 2018

Menakar 'Campur Tangan' Asing di 2019: Beijing Pro Jokowi-Puan, Washington ke Anies-AHY

Menakar 'Campur Tangan' Asing di 2019: Beijing Pro Jokowi-Puan, Washington ke Anies-AHY


posmetroinfo - Campur tangan  pihak asing dalam setiap pemilihan Presiden (Pilpres) RI, sulit dikatakan tidak ada sama sekali. Keterlibatan asing pada Pilpres 2019 mendatang ditengarai masih terjadi. Selain Amerika Serikat (AS), China juga bakal ikut bermain. Sejumlah kalangan mengemukakan, kedua negeri ini bakal ikut `merestui` dan `menentukan` siapa capres dan cawapres pilihan mereka, yang sejalan dengan kepentingan politik dan ekonomi mereka.

Pada Pilpres nanti, sejumlah kalangan menengarai AS dan China sudah ‘pasang kuda-kuda’ dalam menentukan jagonya. Rumors yang berkembang, jika Anies Baswedan berpasangan dengan Agus H Yudhoyono (AHY), keduanya akan mendapat dukungan dari AS (Wahington). Sementara jika Joko Widodo (Jokowi) berpasangan dengan Puan Maharani (Puan) mendapat support dari China (Beijing).

Dukungan Washington kepada Anies-AHY itu karena keduanya sama-sama pernah sekolah di negeri Paman Sam itu. Sementara dukungan Beijing kepada Jokowi-Puan karena kedekatan Jokowi dengan negeri Tirai Bambu itu. Hal ini terlihat dari kebijakan pemerintahan Jokowi yang memberi kesempatan China berinvestasi di Indonesia.

Menanggapi hal ini, pengamat politik dari Universitas Bunda Mulia (UBM) Silvanus Alvin menyebutkan, bisa saja Beijing dan Washington mendukung salah satu kandidatnya dalam proses pilpres di Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari indikasi perjalanan Jokowi selama menjadi Presiden terasa dekat dengan negeri tirai bambu tersebut. Berbagai proyek di antaranya kereta cepat Jakarta-Bandung juga diberikan kepada Cina. 

"Kalau saya sih menilai, bisa saja isu politik ini (dukungan China - Amerika terhdap proses Pilpres 2018) benar adanya. Sebab, dari perjalanan Jokowi selama jadi Presiden, ia terasa dekat dengan negeri tirai bambu," paparnya kepada Harian Terbit, Minggu (8/7/2018).

Begitu juga dengan Anies dan AHY. Selain keduanya sama-sama pernah sekolah di sana, juga terlihat dari kedekatan Susilo Bambang Yudhoyono, yang juga ayah kandung AHY dengan AS. Saat menjadi Presiden RI, arah kebijakan SBY juga dinilai berkiblat ke Washington.

“Jadi wajar jika Amerika dan China berkepentingan terhadap siapa presiden Indonesia yang akan datang. Namun hal utama yang harus digarisbawahi adalah jangan sampai presiden Indonesia nanti menjadi boneka dari negara lain. Apalagi saat ini ada isu China (Beijing) dan Amerika (Washington) mempunyai kepentingan terhadap capres RI. Isu yang beredar pasangan Jokowi-Puan didukung Beijing. Sedangkan Anies-AHY didukung Washingthon,” paparnya.

Perang Terselubung

Hal senada disampaikan Ketua Perhimpunan Masyarakat Madani (Prima) Sya'roni, menurutnya,  Beijing tentu akan berdiri di belakang Jokowi. Sementara AS akan mendukung non-Jokowi. Apalagi selama kepemimpinan Jokowi, Indonesia lebih nyaman bekerjasama dengan China. Proyek-proyek strategis lebih banyak melibatkan China. Sehingga wajar jika di Pemilu 2019 China akan mendukung Jokowi.

"Atas merapatnya biduk Indonesia ke China tentu membuat Amerika meradang," ujarnya.

Sya'roni menuturkan, saat ini di dunia saat ini telah terjadi "perang terselubung" antara Amerika versus China. Dalam kacamata AS, kedekatan Indonesia ke China bisa dianggap sebagai dukungan aliansi strategis. Sehingga wajar juga jika Amerika akan mendukung figur yang akan melawan Jokowi. Siapa pun yang melawan Jokowi akan didukung oleh Amerika.

Silavus dan Sya'roni menegaskan, pemimpin sejati mestinya menolak segala campur tangan asing. Oleh karena itu Indonesia bakal menjadi boneka atau tidak tergantung dari kualitas kepemimpinannya. Karena bila mau disetir maka akan menjadi boneka. Namun bila siap mandiri maka akan dimusuhi oleh negara lain. "Mudah-mudahan Indonesia dikaruniai pemimpin sejati yang menolak segala campur tangan asing," paparnya.

Silvanus menegaskan, negara lain boleh saja menyuarakan dukungan atas tokoh atau kandidat tertentu. Karena mungkin saja negara lain memperhitungkan ikatan kerjasama terhadap Indonesia di masa mendatang. Namun, patut diperhatikan jangan karena kerjasama tersebut menjadi dasar bahwa seolah-olah pemimpin Indonesia haruslah yang mendapat restu dari negara lain, entah China atau Amerika.

Menurutnya, Indonesia bisa dikendalikan oleh negara - negara tersebut karena investasinya ke Indonesia juga besar. Sejak Januari hingga September 2017, nilai investasi China di Indonesia sudah mencapai 2,73 miliar dolar AS.  Sedangkan investasi Amerika Serikat sepanjang Januari-September 2016 hanya sebesar 430 juta dollar Amerika. 

"Investasi menjadi salah satu faktor Indonesia dibayang-bayangi mereka.Tapi memang, jangan sampai pemimpin bangsa ke depan dikendalikan oleh negara-negara adidaya manapun," paparnya.

Spekulatif

Dihubungi terpisah, pengamat politik Indro S Tjahyono mengataka, dalam politik, kalau muncul sinyalemen akan muncul dua calon yakni Jokowi-Puan yang didukung Beijing dan Anies-AHY yang didukung Amerika, itu merupakan realitas yang spekulatif. Tradisinya "negara superpower" seperti Amerika tidak gegabah. Biasanya justru mereka mendukung kedua kandidat. Prinsip mereka ‘tidak penting apakah kucing berwarna hitam atau berwarna putih, yang penting dapat menangkap tikus’.

Justru, lanjut mantan Ketua Dewan Mahasiswa ITB ini,  kalau ditanyakan siapa kandidat yang akan menang menghadapi pilihan poros politik Amerika atau Beijing, itu terpulang pada kandidatnya. Justru kandidat yang membatasi dukungan politik didapat dari negara tertentu, maka kemungkinan menangnya sangat kecil. 

Apalagi kandidat presiden yang mengandalkan isu SARA dalam strategi kemenangannya. Sehingga dengan sendirinya membatasi dukungan politiknya. Perlu diketahui dengan adanya kebangkitan populisme secara global, maka isu rasisme dibenci oleh masyarakat dunia. 

“Pertanyaannya siapakah yang masih mengandalkan isu SARA untuk mempromosikan diri; Jokowi-Puan dan Anies- AHY? Kalau Anies-AHY masih kental dengan isu SARA dalam mengkampanyekan diri, mereka bisa kalah. Demikian pula dengan pasangan Jokowi-Puan,” ungkap Indro yang juga Direktur Skephi, salah satu LSM ternama di negeri ini. [htc]

Loading...
under construction
loading...