logo

28 Jul 2018

Menjual 'Tanah Air' Demi Menyelamatkan Rupiah

Menjual 'Tanah Air' Demi Menyelamatkan Rupiah


posmetroinfo - Langkah penyelamatan rupiah memasuki babak baru. Semakin lama, langkah yang ditempuh pemerintah kian signifikan. 

Rupiah menjadi salah satu mata uang Asia yang mengalami tekanan cukup berat, melemah 6,2% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak awal tahun. Hanya rupee India yang depresiasinya lebih dalam dibandingkan rupiah. 



Melihat perkembangan ini, menjaga stabilitas rupiah menjadi prioritas bagi Bank Indonesia (BI) dan pemerintah. Sebab, depresiasi mata uang tidak membawa keuntungan bagi Indonesia. 

Pelemahan rupiah hanya membawa beban, karena tidak mendongkrak kinerja ekspor dan menambah biaya impor. Belum lagi di pasar keuangan, pelemahan rupiah juga bukan kabar gembira. Saat rupiah melemah, berinvestasi di aset-aset berbasis mata uang ini menjadi kurang menguntungkan karena nilainya turun saat dikonversikan ke dolar AS. Investor asing menghindar dari pasar Indonesia saat rupiah melemah. 

Ini menjadi salah satu penyebab nilai jual bersih investor asing di pasar saham mencapai Rp 19,14 triliun sejak awal tahun. Padahal sepanjang 2017, jual bersih investor asing 'hanya' Rp 39,9 triliun. 

Oleh karena itu, tidak heran bila pemerintah dan BI terus melakukan upaya stabilisasi rupiah. Bahkan BI sampai menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin dalam 3 bulan demi memancing modal asing masuk agar rupiah bisa menguat. 

Bagaimana dengan pemerintah? Pemerintah sedang mengkaji penundaan proyek-proyek infrastruktur non-prioritas untuk mengurangi impor yang menjadi salah satu biang keladi tekanan terhadap rupiah. Rencana ini sepertinya diapresiasi pasar, terlihat dari penguatan rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini.

SIMAK: BUMN Dijual Diam-diam, Prabowo: Negara di Ambang Kehancuran

Hari ini, pemerintah kembali mengumumkan kebijakan penyelamatan rupiah yang dampaknya cukup luas. Pemerintah memutuskan untuk mencabut Domestic Market Obligation (DMO) atau kewajiban memasok batu bara dalam kuota tertentu ke pasar dalam negeri. Dengan begitu, ekspor batu bara bisa meningkat.

"Jadi kalau kita jual nanti bisa dapat lebih US$ 5 miliar. Produksi segitu saja kita sudah dapat segitu. Itu berdampak baik terhadap current account deficit kita, jadi tidak defisit dan rupiah stabil," ungkap Luhut Binsar Pandjaitan, Menko Bidang Kemaritiman, Jumat (27/7/2018). [cnbc]

Loading...
under construction
loading...