logo

2 Jul 2018

Pertumbuhan Melambat, Tim Ekonomi Jokowi Harus Diganti Total

Pertumbuhan Melambat, Tim Ekonomi Jokowi Harus Diganti Total


posmetroinfo - Ekonom Rizal Ramli (RR) mengungkapkan kondisi Ekonomi Indonesia kian buruk. Tak hanya menurut RR, kondisi tersebut juga diamini berbagai kalangan.

RR  mengungkapkan, keputusan Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga akhir pekan ini untuk jangka pendek diharapkan bisa menahan laju penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Sayangnya, upaya itu akan menciptakan konsekuensi baru yang dapat semakin memperumit situasi. Ekonomi akan mengalami kontraksi, dan potensi kredit macet juga akan lebih tinggi.

"Kenaikan suku bunga 50 basis poin diharapkan bisa menahan laju penurunan nilai tukar rupiah. Tapi itu bisa bikin ekonomi kita mengalami maju kena mundur kena, kayak judul film Warkop DKI," ujar DR. Rizal Ramli di arena Car Free Day Jakarta Pusat, Minggu (1/7/208).

Rizal mengatakan, ia meragukan kemampuan tim ekonomi pemerintahan Joko Widodo. "Peringatan tentang berbagai defisit itu sudah kami sampaikan sejak tahun lalu. Tapi selalu dibantah-bantah oleh tim ekonomi pemerintah. Mereka bilang ekonomi dikelola secara pruden. Kalau pruden kenapa defisit semua," sambung Rizal.

Harus Dievaluasi

Tim ekonomi Presiden  Jokowi dinilai gagal mengemban tugasnya. Hal itu tampak dari adanya kondisi ekonomi Indonesia yang kian memburuk. Atas hal itu, Tim Ekonomi Jokowi dinilai harus dicopot.

Hal itu, disampaikan Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS) Edy Mulyadi. "Tidak bisa tidak, tim ekonomi pemerintah memang harus turun mesin. Diganti total," tegas Edy di Jakarta, Minggu (1/7/2018).

Menurut Edy, diantara persoalan yang membelit Pemerintahan Jokowi, persoalan utama negeri ini adalah kinerja tim ekonomi yang jeblok.

"Indikatornya gampang saja. Angka-angka statistik di ranah ini memburuk. Antara lain, sejak semester pertama pertumbuhan ekonomi sempat terjun menjadi 4,71% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang 5,1%. Begitu juga dengan ekspor yang terus melorot, investasi turun, dan terjadi fenomena deindustrialisasi karena impor barang konsumsi gila-gilaan," ungkap Edy.

Edy mengatakan, kondisi perekonomian yang terus memburuk semakin membuat sengsara rakyat. Harga-harga kebutuhan pokok, gas LPG, tarif listrik, tarif tol, dan lainnya terus saja melambung.

"Pada saat yang sama, penghasilan cenderung tidak bertambah. Sebagian besar lainnya bahkan harus mampu bertahan hidup dengan pendapatan tidak tentu karena bekerja secara serabutan," papar Edy.

Melambat

Senada dengan RR, pengamat Ekonomi Faisal Basri, mengungkapkan kondisi perekonomian Indonesia tidak seindah apa yang digambarkan oleh pemerintah saat ini. Dari tahun ke tahun hingga saat ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru semakin menurun hingga di angka 5% pada tahun ini.

"Disadarilah ekonomi Indonesia sedang mengalami perlambatan trennya melemah. Pertumbuhannya dari 8% turun 7% turun 6% turun 5%. Dan Pak Jokowi menyadarinya," ujarnya di Jakarta, Minggu (1/7/2018).

Faisal meminta pemerintah menyadari bahwa hingga saat ini tren pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat. Pasalnya, selama ini pemerintah selalu menyatakan bahwa ekonomi di Tanah Air terus menunjukkan perbaikan.  [htc]

Loading...
under construction
loading...