logo

12 Jul 2018

Rupiah Masih 'Nyungsep' Meski Mata Uang Negara Asia Menguat

Rupiah Masih 'Nyungsep' Meski Mata Uang Negara Asia Menguat


posmetroinfo - Nilai tukar rupiah ditutup melemah 5 poin atau 0,03 persen ke posisi Rp14.390 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan sore ini, Kamis (12/7).

Hal ini terjadi meski mayoritas mata uang Asia sejatinya tengah menguat dari dolar AS. Mulai dari dolar Hong Kong yang menguat 0,01 persen, dolar Singapura 0,13 persen, peso Filipina 0,16 persen, renmimbi China 0,2 persen, baht Thailand 0,2 persen, dan rupee India 0,3 persen.

Namun, pelemahan tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan won Korea Selatan yang melemah hingga 0,52 persen, yen Jepang minus 0,38 persen dan ringgit Malaysia minus 0,1 persen.

Sementara mata uang negara maju mayoritas menguat. Euro Eropa menguat 0,5 persen, poundsterling Inggris 0,07 persen, dolar Kanada 0,11 persen, dolar Australia 0,24 persen, dan rubel Rusia 0,51 persen. Hanya franc Swiss yang melemah 0,14 persen.

Ibrahim, Analis sekaligus Direktur Utama PT Garuda Berjangka mengatakan pelemahan rupiah ini sebenarnya tak begitu buruk, meski beberapa mata uang Asia justru bisa menguat. Pasalnya, ia melihat pelemahan rupiah masih terbilang tipis setelah sebelumnya sempat menembus kisaran Rp14.400 per dolar AS.

Selain itu, rupiah seharusnya melemah lebih dalam karena ada potensi penguatan dolar AS dari akan dirilisnya data inflasi Negeri Paman Sam pada hari ini. Namun, nyatanya, dolar AS tak begitu perkasa hari ini.

"Padahal ekspektasi pasar inflasi mendekati dua persen, artinya akan membuat munculnya indikasi The Fed kembali mengerek bunga, tapi ini justru indeks dolar AS tak berhasil menguat," katanya kepada CNNIndonesia.com.

Lebih lanjut, pelemahan rupiah yang tak begitu dalam, menurutnya cukup terbantu dari asumsi makro tahun depan yang disepakati pemerintah dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

"Ini cukup memberi angin segar, terutama investor asing bahwa perekonomian Indonesia tetap diupayakan meningka, meski secara eksternal tengah ada gonjangan," katanya.

Untuk besok, Ibrahim melihat masih ada potensi rupiah kembali menguat. Namun, rilis data inflasi AS akan menjadi sentimen utama bagi pergerakan rupiah besok. [cnn]

Loading...
under construction
loading...