logo

6 Jul 2018

Tidak Setuju dengan Sebutan 'Islam Nusantara', Mamah Dedeh Diserang Habis-habisan

Tidak Setuju dengan Sebutan 'Islam Nusantara', Mamah Dedeh Diserang Habis-habisan


posmetroinfo - Siapa yang tak mengenal Mamah Dedeh? Ustazah yang begitu digandrungi ibu-ibu pengajian ini terkenal lewat acaranya Mamah dan Aa Beraksi.

Tayangan ini hadir setiap pagi menemani pemirsa televisi. Di dalam acara tersebut, kelompok ibu-ibu pengajian menjadi audiens.

Ditemani komedian Abdel Achrian, Mamah Dedeh memberikan ceramahnya tentang berbagai tema kehidupan dari sisi Islam.

Para jemaah diberi kesempatan bertanya dengan password 'Curhat dong Mah'.


Di tayangan ini Mamah Dedeh terlihat sebagai sosok yang ceplas ceplos.

Mamah Dedeh sering memarahi jemaah yang bertanya. Kalimatnya begitu tegas dan juga mengundang tawa.

Inilah yang membuat kalangan ibu-ibu selalu menantikan acara Mamah Dedeh.

Baru-baru ini Mamah Dedeh mengeluarkan pernyataan kontroversial.

Kalimat itu terlontar saat Mamah Dedeh memberikan  komentar di acara pencarian bakat pendakwah bernama AKSI.

Dari video yang beredar di internet, tayangan tersebut sebenarnya tayang di bulan Ramadan lalu.

Namun menjadi viral baru-baru ini karena beredar luas di internet.

Video singkat ini menjadi viral saat mencuplik komentar Mamah Dedeh.

Mamah Dedeh pada saat itu mengomentari penampilan salah satu peserta AKSI.

"Dan saya mengumumkan dari panggung AKSI Indosiar, siapapun adik-adik tercinta, Allah mengatakan "Nabi Muhammad diutus Allah memberikan rahmat bagi segenap alam". Bukan Islam Nusantara. Bukan. Coret itu. Saya sangat tidak setuju," tegasnya disambut riuh tepuk tangan para audiens.



Pernyataan ini ternyata menyinggung kalangan Nadhlatul Ulama (NU). Ini dikarenakan konsep Islam Nusantara dicetuskan oleh NU.

Reaksi dari anggota NU muncul. Mereka menyesalkan pernyataan Mamah Dedeh yang meminta Islam Nusantara dicoret.

Karena pernyataannya ini menjadi viral dan mengundang kontroversi, akhirnya pihak Mamah Dedeh meminta maaf.

Dikutip dari website NU, nu.or.id, pada Selasa (3/7), perwakilan anggota keluarga Mamah Dedeh juga telah meminta maaf atas ceramah Mamah Dedeh yang cenderung tergesa-gesa dan berlebihan menafsirkan tentang konsep Islam Nusantara.

KH Thobary Syadzily yang mewakili keluarga menyampaikan permohonan maaf atas pernyataan Mamah Dedeh yang menurutnya masih termasuk salah satu pengurus Muslimat NU Depok.

Kiai Thobary menjelaskan bahwa dalam menyikapi suatu persoalan, orang bijak mesti mengedepankan akhlak mulia. Dan jika menilai seseorang bukan dari kesalahan atau kejelekan yang diperbuatnya, tapi dari amal kebajikan yang telah dia lakukan.

Oleh karenanya, masalah kesalahan dakwah yang telah dilakukan Mamah Dedeh tentang amaliah NU dan Islam Nusantara tidak perlu diperpanjang apalagi sampai timbul perpecahan dan permusuhan.

"Saya sebagai wakil keluarga dari beliau, mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan yang telah dilakukan di dalam dakwahnya, baik disengaja maupun tidak disengaja. Mungkin itu karena ketidaktahuannya atau ada potongan setting sehingga terjadi misunderstanding alias salah paham," katanya.

Akhirnya Mamah Dedeh pun menyampaikan permohonan maafnya secara langsung lewat tayangan Mamah dan AA Beraksi.

"Kepada yang terhormat PBNU dan seluruh warga Nahdliyin di negara kita tercinta ini. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahpahaman dan pernyataan saya tentang Islam Nusantara. Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya semoga kita mendapatkan rahmat keberkahan dari Allah SWT," ucapnya.


Apa itu Islam Nusantara?

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand, memberikan penjelasannya.

Lewat akun facebook MusliModerat, ia membuat tulisan tentang konsep Islam Nusantara. Tulisan itu diposting pada Agustus 2017.

"Salah satu kegagalan banyak pihak memahami diskursus Islam NUsantara adalah dengan nyinyir seolah-olah warga NU itu anti segala hal berbau Arab. Maka mereka nyinyir kalau melihat tulisan saya mengutip sejumlah kitab Tafsir berbahasa Arab. "Anti-Arab kok mengutip kitab berbahasa Arab!" kata mereka.


Di pesantren dan madrasah, warga NU biasa belajar bahasa Arab sejak kecil. Tidak mungkin kemudian kami anti dengan bahasa Arab. Banyak santri yang sangat ngelotok memahami grammatika bahasa Arab, bagaimana mungkin kemudian kami dituduh anti-Arab?



Mereka yang menuduh juga menyindir kalau warga NU selesai sholat tidak baca assalamu 'alaikum ke kanan-kiri karena diganti dengan selamat sore- selamat malam. Atau mereka menyindir kalau warga NU wafat akan dikafankan dengan kain batik, bukan kain kafan putih. Ini tentu tuduhan ngawur yang merefleksikan ketidakpahaman mereka mengenai gagasan Islam NUsantara.



Warga NU tahu ilmunya sehingga dalam soal budaya Nusantara mereka mengakomodasinya secara proporsional. Islam NUsantara bukan menabrak Syari'at tapi mengisi aplikasi penerapan Syari'at dengan mengkomodasi budaya. Dalam bahasa Ushul al-Fiqh ini disebut dengan: al-'Adah Muhakkamah (adat kebiasaan dijadikan panduan menetapkan hukum).



Begitu juga dengan kaidah: al-Ma'ruf 'urfan ka al-Masyrut Syartan (hal baik yg sudah dikenal secara kebiasaan diterima seperti halnya syarat) atau al-Tsabit bi al-dalalah al-'urf ka al-tsabit bi al-dalalah al-nash(yang ditetapkan dengan indikasi dari adat sama statusnya dengan yang ditetapkan berdasarkan petunjuk nash).



Dan juga kaidah lainnya: Ma raahu al-muslimun hasanan fa huwa 'indallah hasan (apa yang dianggap baik oleh umat Islam maka di sisi Allah pun dianggap baik).



Semua kaidah ini sudah dipelajari bagaimana penerapannya di masyarakat Indonesia oleh para kiai Nahdlatul Ulama (NU). Itu sebabnya NU itu lentur, fleksibel tapi juga lurus. Dalam bahasa lain, NU itutawazun, tasamuh, tawasuth dan i'tidal. Kalau cuma lurus saja, belum komplet NU-nya. Kalau cuma lentur saja, juga belum komplet ke-NU-annya.



Mau pakai baju batik atau blankon, sorban dan gamis, atau peci hitam - peci putih, shalat anda sama-sama sah. Islam NUsantara tidak akan menganggap hanya yang pakai batik dan peci hitam serta sarung yang sah shalatnya. Kami juga tidak akan menganggap hanya mereka yang pakai sorban dan gamis saja yang sah shalatnya. Selama shalatnya menutup aurat dan suci dari najis, maka pakaian apapun yang dianggap baik menurut adat setempat bisa dipakai untuk shalat.



Begitu juga ungkapan akhi-ukhti, bagi kami itu sederajat dengan panggilan mas atau mbak. Mau panggil istri anda dengan ummi atau mamah atau ibu atau panggilan mesranya lainnya, silakan saja. Tidak perlu anti-Arab, tapi juga tidak perlu memaksakan orang lain untuk seperti orang Arab. Jangan sampai semua istilah lokal dan bahasa daerah maupun bahasa Indonesia mau diganti dengan bahasa Arab biar terkesan lebih islami dan kemudian memaksa orang lain untuk mengikuti anda. Ini yang tidak bijak dan kurang proporsional.



Mau makan nasi kabuli silakan. Mau makan jengkol dan pete ya silakan. Islam NUsantara mengakomodasi semuanya. Kami warga NU belajar ilmu keislaman klasik dalam kitab berbahasa Arab tidak berarti kami harus lebih arab dari orang arab. Kami tetap warga Indonesia; bukan orang Arab. Islam di Jawa sama sah dan validnya dengan Islam di Madinah. Jangan kemudian ini dipelintir bahwa tidak perlu kita naik haji ke Arab. Bukan begitu. Zaman sekarang sayangnya banyak pelintiran model Jo**u.



Entahlah, kenapa masalah yang terang benderang seperti ini saja masih banyak pihak yang gagal paham (atau memang sengaja tidak mau paham) dan terus membenturkan Islam NUsantara dengan model penafsiran dan aplikasi Islam lainnya. Atau memang ada pihak yang akan bertepuk tangan melihat kita terus gontok-gontokkan? Na'udzubillah min dzalik.



Islam Arab yes.

Islam NUsantara yes.
dan Islam Australia juga yes." [tribun]

Loading...
under construction
loading...