logo

4 Agt 2018

Komisi Dakwah MUI: Jauhkan Masjid dari Politik Praktis

Komisi Dakwah MUI: Jauhkan Masjid dari Politik Praktis


posmetroinfo - Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis meminta seluruh pihak untuk memperhatikan etika saat berada di dalam masjid. Hal ini pun berlaku untuk masalah kampanye politik.

Cholil menyebut ketika berada di dalam masjid, utamanya setiap umat harus melakukan hal-hal yang tujuannya mengingat Allah SWT. Sementara hal di luar itu, baiknya dihindari.

"Hal-hal yang dibawa ke masjid itu yang untuk mengingat Allah. Masalah bisnis saja oleh Nabi didoakan agar tidak membawa untung. Artinya, bisnis di dalam masjid itu sangat dibenci," ujar Cholil kepada Republika, Jumat (3/8).

Cholil menegaskan, segala bentuk kegiatan di dalam masjid baiknya yang bertujuan mengingat Allah SWT dan menambah pahala. Kegiatan lain seperti bisnis maupun politik praktis baiknya dilakukan di tempat lain.

Aktivitas politik praktis atau kampanye yang arahnya menjelekkan orang, mengecilkan, bahkan memaki-maki orang lain tidak diperbolehkan dilakukan di dalam masjid. Jenis politik yang diizinkan adalah mengenai politik kebangsaan.

"Hal-hal yang bisa disampaikan mengenai politik berkebangsaan adalah bahwa bernegara hukumnya wajib, taat pada pemimpin itu wajib, pilihlah pemimpin yang baik dan jujur. Jangan di masjid bilang 'pilihlah saya, yang lain jelek'. Itu tidak boleh," lanjut Cholil.

Hal-hal yang berorientasi kekuasaan dan bukan dipakai untuk mengingat kepada Allah dan kebaikan ini secara etika tidak layak dilakukan di masjid. "Kalau masalah politik bernegara yang edukatif ini boleh. Bukan politik praktis, tapi yang berkebangsaan," ujarnya.

Ia pun berharap tidak terjadi perpecahan umat akibat politik praktis ini. Cholil mengingatkan satu majelis dalam masjid bisa saja berbeda pilihan dan pandangan politik, maka ada baiknya menghindari hal tersebut.

Masjid baiknya diisi dengan pengajian yang mencerahkan dan mendidik. Hal ini lebih bisa menghindari adanya perseteruan atau perpecahan ini.

"Kita imbau kepada ulama untuk menghindari politik praktis dan partisan. Ini untuk menghindari perpecahan karena jamaah pasti pilihannya berbeda. Gunakan ruang lain untuk hal tersebut, jangan di masjid," ujar Cholil. 

Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Maman Imanulhaq, sebelumnya menyatakan, untuk mengembalikan fungsi rumah ibadah seperti masjid, masyarakat harus terus diberikan edukasi apa sebenarnya fungsi rumah ibadah tersebut. Edukasi ini sangat penting karena kalau masyarat sudah tercerahkan, mereka sendiri yang akan menghentikan bila ada oknum atau pemimpin agama yang menjadikan tempat ibadah untuk hate speech, kebencian, kedengkian, permusuhan.

“Saya prihatin bila ada rumah ibadah yang digunakan untuk menyebarkan hate speech, kebencian, kedengkian, atau permusuhan. Kalau benar, ini menjadi semacam peringatan bagi kita untuk mengembalikan tempat ibadah itu kepada fungsi utama yaitu mendekatkan diri pada sang maha kuasa, dan mempererat hubungan sesama manusia,” kata Maman. [rol]


Loading...
under construction
loading...